ALUMNI MPI BERKIPRAH DALAM REMBUK NASIONAL REVITALISASI EKOTEOLOGI
Jember- Dalam gelaran rembuk nasional revitalisasi ekoteologi yang digelar pada rabu 11 februari 2026, salah satu narasumber kunci yang hadir Adalah Ahmad hadinuddin M.Pd., anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari fraksi E yang juga merupakan alumni Prodi Manajemen Pendidikan lslam (MPI) S2 UIN KHAS Jember. Acara yang bertujuan menyelaraskan nilai-nilai keimanan dengan Upaya pelestarian lingkungan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari legislator hingga akademisi.
Sebagai legislator yang berlatar belakang Pendidikan islam, hadinuddin menyoroti pentingnya forum semacam ini dalam menghasilkan kebijakan yang konkret dan transformative.
Hadinuddin dalam pemaparannya menekankan bahwa forum ini diharapkan tidak hanya menjadi diskusi semata, tetapi mampu melahirkan rekomendasi yang langsung dapat dipertimbangkan dalam pembahasan rancangan kebijakan.
“kontribusi kongkretnya Adalah terformulasikannya rekomendasi kebijakan yang actionable, terutama di bidang lingkungan dan Pendidikan. Misalnya mendorong kurikulum yang meng integrasikan etika lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan,” ujarnya.
Mengenai sinergi, hadinuddin menyampaikan harapan besar agar kolaborasi yang terjalin dapat bersifat berkelanjutan. “harapannya , lahir suatu task force atau forum permanen yang menghubungkan para akademisi. Hasil rembuk harus ada tindak lanjutnya, di monitor Bersama, dan di evaluasi,” paparnya.
Sebagai alumni MPI, Hadinuddin juga menampaikan pandangannya tentang relevansi keilmuan tersebut di dunia nyata. Menurutnya, kompetensi unik lulusan MPI yang paling relevan Adalah kemampuan mengaplikasikan prinsip-prinsip manajemen dan kepemimpinan Pendidikan yang bernuansa Islami dalam konteks yang lebih luas, termasuk pengelolaan isu strategis bangsa seperti ekoteologi.
“lulusan MPI punya kemampuan analisis kebijakan yang dibingkai dengan nilai keislaman yang kuat. Ini sangat dibutuhkan untuk menerjemahkan konsep-konsep mulia seperti ekoteologi menjadi program ang terstruktur dan terukur,” jelasnya.
Untuk mahasiswa yang ingin berkontribusi, ia menyarankan untuk tidak membatasi diri hanya pada lembaga legislatif. “Berkaryalah di mana saja: di LSM lingkungan yang berbasis komunitas, di media sebagai pencerah publik, di dunia usaha, atau tentu saja di lembaga pendidikan sebagai agen perubahan paling dasar.”
Di samping ilmu akademik, Hadi menekankan pentingnya mengasah soft skill seperti kemampuan berkomunikasi lintas budaya, negosiasi, dan yang terpenting adalah integritas dan keteladanan. “Ilmu MPI mengajarkan kita untuk menjadi manajer yang juga murabbi. Prinsip itu yang harus dipegang, di mana pun kita berkarya. Jangan sampai hilang kekhasan kita: mengelola dengan hati, memimpin dengan keteladanan.”
Di akhir wawancara, Hadinuddin menyampaikan pesan motivasi langsung untuk para mahasiswa MPI: “Untuk adik-adikku mahasiswa MPI, baik yang sedang berjuang menyelesaikan studi maupun yang baru mulai, saya titip pesan: ‘Berkaryalah dengan ilmu, berjuanglah dengan iman, dan berbaktilah dengan amal.’ Jejak saya ini hanyalah salah satu dari ribuan jalan pengabdian. Fahami konsep management dalam MPI tidak hanya sebagai teori, tapi sebagai seni mengelola perubahan untuk kemaslahatan umat dan alam semesta. Jangan takut bermimpi besar. Asahlah kemampuan, perbanyak silaturahmi, dan yang pasti, berpijaklah kuat pada basis keilmuan MPI kalian. Saya yakin, kalian bukan hanya bisa mengikuti, tetapi pasti akan melampaui apa yang sudah senior-senior capai. Bangsa ini menunggu kontribusi nyata kalian.”
Kegiatan Rembuk Nasional ini diharapkan menjadi pemantik bagi aksi-aksi kolektif yang lebih konkret, dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk para profesional muda seperti alumni MPI, dalam membawa narasi ekoteologi ke dalam kebijakan publik yang lebih hidup dan aplikatif.
Penulis : Nanda Salsabila
Editor : Ludvy Ayu S.




